F Likeability - Psychology, Health, Parenting, and Trending Topics

Likeability

Hai teman-teman, apa kabarnya? Semoga senantiasa dalam keadaan sehat dan baik.

Di dalam artikel kali ini, saya akan membahas tentang “Likeability”. Kalau kamu mempunyai ini,  karir kamu akan terus menanjak dengan cepat, dan pekerjaan kamu dimudahkan.

Kalau kamu seorang sales, kamu akan mudah melakukan closing, dan tentunya kamu akan mudah menjalin relasi dengan siapapun.

Kalau kamu seorang leader (supervisor, manager, director), kamu akan mudah dalam memimpin, menginspirasi, dan mengarahkan anggota tim kamu.

Likeability akan memberbesar kesempatan kamu untuk sukses dalam kehidupan dan pekerjaan kamu. Ingin tahu detailnya ? Silakan baca artikel  ini sampai selesai ya teman-teman, saya akan membuka rahasianya dari awal sampai akhir.

Nah teman-teman, tahukah kamu kalau manusia itu sangat subjektif dalam menerima ide-ide dari orang lain? Manusia sering melihat “siapa” yang menyampaikan ide itu. Kalau mereka “tidak menyukai” orang yang menyampaikan, maka ide itu cenderung ditolak.

Kalau kamu ingin ide kamu cenderung diterima, kamu perlu memiliki “Likeability Factor” (L-Factor).

Apa itu Likeability? Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Jayanti dan Whipple (2006), Likeability ini merupakan kemampuan untuk membuat orang lain merasakan emosi yang positif saat berkomunikasi dengan kita, seperti tenang, gembira, dan juga merasa nyaman .

Dalam bahasa sederhananya, Likeability itu merupakan ciri seseorang yang cenderung membuat orang lain merasa senang jika di dekatnya.

Kamu tentu pernah merasakan hal ini : saat bertemu dengan orang tertentu, entah bagaimana, perasaan kamu koq jadi lebih tenang, senang, ataupun nyaman.

Nah ini terjadi karena orang yang kamu temui itu merupakan orang yang memiliki Likeability factor yang besar (Likeable person). Biasanya kamu menyebutnya dengan : orang yang menyenangkan, orang yang penuh pengertian, orang yang membuat semangat, bahkan seringkali disebut dengan orang yang kharismatik.

Di  kantor ataupun pergaulan, kehadirannya selalu dinantikan. Ketika orang ini datang, semua yang ada di situ pun mulai merasa bergairah. Biasanya, hal apapun yang disampaikan orang ini akan cenderung diterima, dan minim penolakan.

Di dunia sales, misalnya sales mobil, ia akan punya banyak customer. Karena customer-customer lamanya akan merasa puas dengan pelayanannya, sehingga ketika akan beli mobil lagi, maka akan mencari sales ini. Customer pun akan merekomendasikannya kepada teman-temannya.

Dan jika ia sebagai seorang pemimpin (supervisor, manager, direktur), anggota timnya akan merasa nyaman, memiliki gairah untuk maju, dan pastinya akan dengan senang hati berkontribusi maksimal di bawah kepemimpinannya.

Menarik bukan? Bagaimana dengan kamu? Tentunya kamu ingin memiliki tingkat Likeability yang tinggi dalam diri kamu.

Barangkali ada yang bertanya : “Bukankah Likeability itu bawaan lahir?” “Mungkinkah aku yang seperti ini bisa memiliki Likeability?”

Kabar gembiranya adalah bahwa Likeability itu sebuah kualitas pribadi yang “BISA DIBANGUN” .

Bagaimana caranya? Berdasarkan penelitian yang telah lama dilakukan dalam Psikologi Sosial, ditemukan bahwa setidaknya terdapat empat aspek yang menentukan Likeability manusia. Jika kamu dapat memaksimalkan keempat aspek itu, Likeability kamu akan meningkat teman-teman.

Baiklah, saya kupas satu-persatu ya teman-teman:

 
1.Similarity (kesamaan)
Pada dasarnya, manusia cenderung menyukai manusia lain yang memiliki kesamaan dengannya; baik dalam hal latar belakang, kepercayaan, kesukaan, dan gaya pribadi (personal style).

Oleh karena itu, ketika kamu ingin meyakinkan seseorang untuk menerima ide-ide kamu, pastikan terlebih dahulu kamu mengenal orang tersebut. Sehingga kamu bisa mencari bagian mana dari kamu yang dapat kamu selaraskan dengan orang tersebut.

Saya beri contoh, misalnya kamu seorang sales mobil. Ketika sedang melayani customer, lakukan penyelarasan terlebih dahulu (kalau bahasa NLP adalah Pacing), dengan cara melakukan pembicaraan singkat yang ringan di awal kontak dengan mereka.

Dari pembicaraan singkat tersebut kamu akan mendapat data awal, seperti : daerah asal, jumlah anak, bahkan hobi. Misalnya kamu menemukan bahwa antara kamu dan customer sama-sama berasal dari Semarang. Nah, kamu bisa menggunakan kesamaan daerah asal itu untuk menciptakan bonding (ikatan yang lebih akrab).

Sehingga customer merasa memiliki kesamaan dengan kamu, percaya deh, jika sudah begini, akan lebih gampang untuk closing customer. Ia akan lebih percaya pada penjelasan dan penawaran mobil dari kamu, karena terbersit di pemikirannya bahwa : “sama-sama orang dari Semarang, pasti ga akan membohongi”.

Saya kasih satu contoh lagi, misal setelah kamu gali, daerah asal kalian berbeda, tapi sama-sama memiliki tiga anak dengan usia yang hampir sama. Kamu bisa menceritakan bagaimana tantangan dan kesenangan mengasuh tiga anak dengannya, maka ia akan dengan segera menyambarnya dengan menceritakan pengalamannya juga. Ia merasa nyaman, karena memiliki pengalaman yang hampir sama saat membesarkan tiga anak.

Nah, hal ini juga berlaku ketika kamu ingin menciptakan bonding dengan sekelompok orang dan membuat mereka mau mendengarkan kamu saat kamu sedang berbicara. Misalnya ketika kamu ingin mempresentasikan produk atau jasa kamu kepada karyawan sebuah perusahaan secara virtual melalui zoom.

Sebelum presentasi, kamu perlu melakukan survey terlebih dahulu seperti, warna seragam mereka, rata-rata usia mereka, rata-rata Pendidikan mereka, dan lain sebagainya. Saya ambil contoh, kamu mengetahui bahwa seragam mereka biru, maka pada saat presentasi, sangat bagus jika kamu juga menggunakan pakaian bernuansa biru seperti mereka.

Ketika awal perkenalan saat presentasi, kamu bisa menyapa mereka dengan ramah, dan bisa juga mengangkat kesamaan warna biru yang kalian pakai. Kamu bisa menyampaikan : “ Wah, bukan kebetulan kita sama-sama memakai warna biru. Karena saya sendiri ini penyuka warna biru. Warna biru itu melambangkan integritas, dan juga ketenangan”. Dengan demikian, kamu sedang menanamkan kepada mereka bahwa kalian memiliki kesamaan.

Contoh lainnya, ketika peserta presentasi kamu itu adalah para sales, dan kebetulan kamu memiliki latar belakang sales, nah, kamu bisa mengangkat latar belakang kamu untuk menciptakan similarity (kesamaan).

Mudah bukan? Jadi langkah awal agar kamu diterima dan ide kamu didengarkan adalah CARI dan ANGKAT lah kesamaan di antara kalian untuk menciptakan bounding dengan customer atau klien. Jika bonding itu sudah terbentuk, maka mereka akan lebih mudah dalam menerima diri kamu dan juga otomatis menerima ide-ide kamu. Selanjutnya, terserah kamu, lakukan langkah selanjutnya sesuai dengan tujuan awal kamu berkomunikasi dengan mereka.

Selamat mencoba teman-teman.


2.Familiarity (keakraban)
Seseorang dikatakan memiliki familiarity atau biasa disebut dengan orang yang familiar (penuh keakraban) ketika :

a.Ia dapat memahami dengan tepat harapan (ekspektasi) orang lain, dan mampu memenuhi harapan orang tersebut. Dalam bahasa sederhanamya, seorang yang familiar adalah orang yang menunjukkan “ Gue ngerti apa yang Lo mau”.

Hampir semua orang ingin dimengerti, tidak hanya wanita saja lho….Contoh nyatanya : kamu tentu pernah kecewa dengan teman kerja atau teman main kamu karena mereka tidak melakukan hal yang kamu ingini (padahal kamu tidak pernah menyampaikan keinginanmu kepada mereka). Ini umum terjadi, hampir semua orang juga pernah mengalami hal ini.

Misalnya, suatu siang teman kantormu keluar kantor untuk membeli makanan, kamu sedang sibuk dengan pekerjaan, sehingga kamu tidak sempat keluar makan. Dalam hati kecil, kamu sebenarnya ingin nitip temanmu, tapi kamu tidak sempat bilang kepadanya.

Tidak lama setelah itu, kamu mendapati bahwa temanmu sudah balik lagi ke kantor dengan membawa makanan. Lalu kamu bilang kepadanya : “Wah, lo koq ga bilang kalo keluar, gue mau nitip padahal”. Dan dalam hati, kamu pun merasa kecewa. Nah, dari hal sederhana ini saja membuktikan bahwa kalau seseorang tidak “mengerti” yang kamu mau, kamu akan kecewa, dan bisa jadi tidak suka dengan orang itu.

Nah kaitannya dengan karir, biasakan untuk memahami apa yang menjadi harapan atasan kamu. Misalnya atasan kamu itu suka kalau anak buahnya selalu update perkembangan pekerjaannya, kalau kamu tahu hal ini, penuhi harapannya.

Rajin-rajinlah memberi update kepadanya, maka atasanmu itu akan cenderung suka akan kinerjamu dan menganggapmu dapat dipercaya (kredibel); jadi ketika kamu menyampaikan ide, ia akan cenderung mau mendengarkan dan menerima idemu itu.

Contoh lainnya, misalnya kamu berprofesi sebagai sales property, dan kamu tahu kalau customer kamu itu orangnya sibuk, tidak punya banyak waktu, dan tidak suka basa-basi (bertele-tele), maka saat kamu sedang melayaninya, upayakan untuk “to the point”, jangan berlama-lama dan bertele-tele. Sebelumnya kamu siapkan pilihan-pilihan rumah yang sesuai dengan harapannya, jadi tidak membuang banyak waktunya.

Lain halnya kalau customer kamu suka ngobrol lama, maka kamu perlu menyiapkan waktu lebih untuk ngobrol dengannya.

Inti dari familiarity adalah kita menunjukkan kalau kita ini mengerti benar-benar apa yang menjadi harapan customer kita. Penuhi itu, maka ia akan cenderung suka terhadap pribadi dan pelayananmu, sehingga ia akan cenderung menerima ide-idemu.

Ketika kamu sudah mengembangkan aspek familiarity ini dalam kualitas diri kamu, maka kamu akan menjadi pribadi yang berkesan penuh keakraban, dan customer menyukai hal itu. Terapkan dalam kehidupan dan pekerjaanmu, jangan heran , kalau karir dan penjualanmu MELESAT TAJAM.

b.Memancarkan keramahan dan kehangatan
Cara berikutnya untuk menjadi familiar di dalam persepsi teman bicara atau customer adalah dengan menunjukkan keramahan dan kehangatan, dengan cara :

-Memberikan senyuman ketika berbicara
-Melakukan kontak mata dengan proporsional ketika berbicara
-Menyapa dengan hangat

3.Reciprocity (timbal balik)
Agar orang lain mau mendengarkan dan menerima ide kamu, terlebih dahulu kamu perlu “memberikan” sesuatu kepadanya, sehingga ia dengan senang hati akan memberikan balasannya kepadamu. Ini seperti prinsip tabur-tuai atau prinsip give and take. Berikan dulu, nanti ia akan membalasnya kepadamu.

Berdasarkan prinsip ini, yang perlu kamu lakukan adalah dengan menunjukkan bahwa kamu menghargai, menyukai, dan menerima kehadirannya, maka ia akan menjadi lebih toleran, dan lebih bersedia untuk menerima ide-ide baru, dan ia akan lebih bisa dipercaya.

Terapkan ini kepada semua orang di banyak keadaan, maka kehidupanmu akan menjadi lebih mudah, akan ada banyak orang yang menyukai kehadiranmu, dan tentu saja ketika ada hal atau ide yang ingin kamu sampaikan atau tawarkan kepada mereka, mereka akan dengan senang hati mendengar dan menerimanya.

Beberapa orang inginnya meminta, meminta, dan meminta, tanpa terlebih dahulu memberi dan menjalin hubungan dengan orang tersebut. Jika ini yang dilakukan, jangan heran jika orang lain tidak mau mendengarkan idenya.

Jadilah pribadi yang menyenangkan, maka akan memudahkan orang lain untuk mau menerma kamu dan ide-ide kamu.

Di dalam ilmu Neuro Lingustic Programming (NLP), untuk dapat meyakinkan orang lain berlaku prinsip:
Pacing-Pacing-Pacing --> Leading

Pacing artinya penyelarasan
Leading artinya memimpin, atau mengarahkan

Artinya, sebelum kamu mengharapkan orang lain melakukan yang kamu harapkan, terlebih dahulu kamu perlu melakukan penyelarasan (seperti di point 1.) setidaknya tiga kali, baru usaha kamu untuk meyakinkan orang lain membuahkan hasil.

Ingin orang lain mendengarkan kamu? Ingat prinsip reciprocity (timbal balik), tabur dulu baru menuai, give dulu baru take (beri dulu baru kamu menerima).


4.Attractiveness (daya Tarik/ daya pikat)
Menurut penelitian, seseorang yang dinilai orang lain kompeten secara sosial dan intelektual akan lebih disukai dari pada orang lain yang dinilai tidak kompeten.

Oleh karena itu, kamu perlu memastikan bahwa kamu memberikan kontribusi maksimal serta berupaya untuk terus meningkatkan kompetensi kamu. Kompetensi sosial yang perlu kamu kuasai meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain, seperti kemampuan untuk mendengarkan, menyampaikan ide, dan menunjukkan empati kepada orang lain saat berkomunikasi dengan mereka; serta meliputi kemampuan dalam memberikan kontribusi di masyarakat sesuai dengan tingkat usia, latar belakang Pendidikan, keahlian, dan bakat kamu.

Sedangkan kompetensi intelektual meliputi kemampuan dalam hal penyelesaian masalah, creative thinking, serta dalam melakukan pekerjaan kamu.

Secara sederhana, kompetensi ini berbicara mengenai tanggung jawab kamu sebagai anggota masyarakat dan dalam pekerjaan. Jadilah orang yang dapat dipercaya di bidang kamu.  

Nah demikianlah keempat aspek yang perlu kamu miliki dalam kualitas pribadi kamu, sehingga kamu memiliki tingkat Likeability yang tinggi. Bagaimana tingkat Likeability kamu?

Semoga bermanfaat.

Jika artikel ini bermanfaat, silakan subscribe dan share ya teman-teman.

Saya doakan kamu sehat, sukses, dan bahagia selalu.
Ngopi dulu ahhhhh…

Bogor, 5 Agustus 2021
Salam sehat bahagia,
Herry Santoso, S.Psi.
Content Writer-Author-Certified BNSP Trainer
Insta @ FB : @herrymotivator
Youtube Channel : Herry Santoso
085100465050

Sumber referensi :
Jayanti, Rama K., & Whipple, Thomas W (2006). Like Me … Like Me Not: The Role of Physician Likability on Service Evaluations. DOI : 10.2753/MTP1069-6679160106

#Likeability #HerrySantoso #KomunikasiEfektif #Motivator

 

CONVERSATION

1 comments:

  1. Las Vegas Casino & Hotel - MapyRO
    Casino & 강릉 출장안마 Hotel 세종특별자치 출장안마 Map. 여주 출장마사지 4555 원주 출장안마 Las Vegas Blvd S Las Vegas, NV 89109. Phone: (702) 770-3357 상주 출장안마 Website: http://www.lasvegas.com/casinos/harbor/

    ReplyDelete