Teman-teman, masih ingatkah kamu dengan kejadian pemukulan terhadap seorang NAKES di Palembang? Sebenarnya apa sih yang terjadi? Nah di dalam artikel ini saya akan menguraikan sejauh yang saya ketahui.
Sebelum lebih jauh, coba kamu ingat-ingat lagi, pernahkah kamu mengalami atau melihat salah satu kejadian ini :
-Ketika sedang menyetir, tiba-tiba ada mobil yang memotong dari depan; dan tiba-tiba saja kamu merasa kaget, jantung dan nafas seolah berhenti, tubuh merasa tegang, dan kaki secara spontan menginjak rem
-Ada teman atau anggota keluarga yang entah sengaja atau tidak mengeluarkan kata-kata yang menyinggung orang yang kamu sayangi, lalu spontan kamu marah dan meneriakinya; lalu tidak lama kemudian kamu merasa sedikit menyesal dan berkata dalam hati : “Lah, tadi kenapa koq aku membentak dia ya? Maksud orang itu kan tidak seperti itu?”
-Saat kamu sedang menyampaikan pendapat di meeting tiba-tiba salah seorang temanmu menyanggah pedapatmu dengan kasar dan berkesan merendahkan; mendadak kamu merasa marah, dan ingin membentaknya
-Dan masih banyak lagi contoh lainnya
Dalam kejadian di atas salah satu penyebabnya adalah kerja AMYGDALA di dalam otak kita, yang menyebabkan terjadinya RESPONS BERTEMPUR ATAU KABUR (Goleman, 2015).
Secara singkat ketika kamu menangkap berbagai kejadian melalui panca indera, sinyal tersebut akan dikirim ke Talamus (untuk menerjemahkan sinyal yang diterima dari pancaindera ke dalam bahasa yang dapat diterima otak), nah dari Talamus sebagian akan diteruskan ke korteks penglihatan, pendengaran, dan lain sebagainya untuk dimaknai terlebih dahulu.
Namun, menurut penelitian *Joseph LeDoux (Goleman, 2015), ternyata sebagian sinyal tersebut dari Talamus, langsung dikirimkan ke Amygdala tanpa mengalami proses kognitif, alias tanpa dipikirkan secara logis terlebih dahulu. Sebenarnya Amygdala ini berjasa untuk menyelamatkan kita dalam berbagai potensi bahaya (kecelakaan). Misalnya : Ketika kamu melihat ular, maka tanpa berpikir Panjang kamu akan lari menghindar; ketika kamu sedang mengendarai mobil, dan kamu melihat ada tawuran di dekat kamu, tanpa pikir Panjang kamu akan berusaha mengubah arah mobil.
Di sisi lain, ketika Amygdala bekerja di waktu yang tidak tepat akan mengakibatkan kita bertindak di luar nalar, bahkan melupakan konsekuensi atas tindakan tersebut. Seperti kejadian tindak pemukulan terhadap NAKES di Palembang.
Sang suami mendapatkan informasi dari sang istri mengenai yang dialami anaknya. Informasi ini segera dimaknai oleh sang suami bahwa tindakan yang dilakukan NAKES sudah sangat membahayakan anaknya, sehingga tanpa pikir Panjang, yang bersangkutan segera menuju rumah sakit, menemui NAKES, dan langsung melakukan tindak kekerasan.
Jika kamu perhatikan, akhirnya setelah kemarahannya mereda, dan pikiran logis mulai mengambil alih kerja Amygdala, yang bersangkutan pun menyesali perbuatannya.
Inilah yang menjadi dasar setiap kali saya memberikan pelatihan Handling Customer Complaint saya selalu mengingatkan agar : TURUNKAN DULU TINGKAT KEMARAHAN CUSTOMER, baru secara perlahan kita ajak diskusi. (untuk Teknik detailnya saya akan bahas di materi selanjutnya ya).
Bagaimana kita mampu mengelola agar emosi kemarahan tidak meledak begitu saja?
1.Biasakan untuk menerapkan Think First Before Act (jangan bertindak dan mengambil keputusan apapun ketika kia sedang dikuasai emosi kemarahan)
2.Biasakan untuk mencari fakta yang sebenarnya (Tabayun) sebelum bertindak atau mengambil keputusan apapun
3.Melatih Teknik untuk menurunkan emosi kemarahan dengan Teknik-teknik yang tepat (seperti menarik dan menghirup nafas dalam-dalam, pikirkan hal-hal yang positif, gunakan self talk yang baik, dan lain sebagainya)
Tuhan memberikan manusia EMOSI agar manusia benar-benar menjadi manusia sejati. Jadi mari pergunakan EMOSI untuk KEBAHAGIAAN kita dan manusia lain, bukan justru untuk MERUGIKAN kita dan orang lain.
Saya doakan kamu semua sukses, sehat, dan bahagia selalu ya….
Ngopi dulu ahhhhh….
Sumber referensi:

0 comments:
Post a Comment