F "Babi Ngepet" – The Power of Conformity (Sudut pandang Psikologi Sosial) - Psychology, Health, Parenting, and Trending Topics

"Babi Ngepet" – The Power of Conformity (Sudut pandang Psikologi Sosial)

Babi ngepet merupakan kepercayaan “pesugihan” yang dipercaya oleh beberapa daerah di Indonesia. Masih ingatkah teman-teman dengan berita mengenai "babi ngepet" yang menghebohkan di media sosial dan pemberitaan pada bulan April 2021 lalu? 

Beritanya adalah adanya kabar bahwa telah ditangkap babi ngepet di sebuah daerah di Depok. Babi tersebut dipercaya merupakan babi jadi-jadian. Dibumbui dengan berbagai cerita (yang seolah-olah nyata) mengenai cara penangkapannya yang dramatis (dengan bugil), ditambah lagi dengan cerita (yang seolah-olah nyata) bahwa beberapa warga mengalami kehilangan uang senilai 1-2 juta.

Lebih lengkap lagi ada seorang wanita yang menyatakan bahwa ia “mencurigai” seseorang dari daerah lain yang “sudah berumah tangga, nganggur, TETAPI punya banyak UANG”. Sontak hal ini menjadi perbincangan, dan “nyaris” dipercaya oleh masyarakat.

Kejadian unik ini terjadi karena ulah seseorang yang dengan motif tertentu membuat “Hoax” babi ngepet. Ia bersekongkol dengan beberapa orang lainnya untuk meyakinkan masyarakat dengan membangun sebuah alur cerita untuk mendukung rencana mereka. Hasilnya boleh dibilang cukup berhasil, karena atas kerja orang-orang tersebut, kisah babi ngepet mulai dipercaya masyarakat.

Hal tersebut terlihat dengan banyaknya masyarakat yang datang ke lokasi untuk melihat sosok babi ngepet. Entah sekedar penasaran saja, ataupun mulai mengubah pemikirannya untuk mempercayai bahwa itu memang babi jadi-jadian (yang berasal dari seseorang yang melakukan ritual babi ngepet untuk meraup kekayaan dengan cara mencuri dari orang lain), meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang kuat, dan hanya berdasarkan kesaksian dan perkataan beberapa orang.  Inilah yang dalam Psikologi Sosial disebut dengan KONFORMITAS, yaitu : perilaku mengubah apa yang ia percayai sesuai dengan apa yang dipercayai orang banyak agar sesuai dan diterima.

Dalam titik tertentu, KONFORMITAS ini dapat saja menjadi  hal yang berbahaya. Beruntungnya, yang menjadi korban FITNAHAN adalah seekor babi yang “APES”,  saya tidak dapat membayangkan jika yang menjadi korban adalah orang (sehingga mengakibatkan terjadinya tindakan yang di luar nalar terhadap orang tersebut), maka nama baik dan keselamatannya akan terancam.

Beruntungnya pihak kepolisian berhasil mengungkap “kebohongan” berita ini, pelaku sudah ditangkap dan sudah mengakui perbuatan “kebohongannya”; sehingga kehebohan masyarakat pun lenyap. Namun baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi tentang hal ini. Melalui secangkir kopi Herry Santoso volume 6 ini, saya mengajak teman-teman untuk melihat dari sudut pandang lain, yaitu dari sudut pandang Psikologi Sosial.

Saya berfokus pada efek KONFORMITAS pada masyarakat. Apakah teman-teman pernah mendengar kata tersebut? Bagi teman-teman yang masih asing dengan istilah tersebut, berikut saya berikan definisi konformitas menurut Myers (2010) dalam bukunya “Social Psychology” :

 
1.Perubahan perilaku dan kepercayaan seseorang agar diterima oleh lingkungan atau orang lain
2.Perubahan perilaku yang dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan sekitar berperilaku
3.Berperilaku atau berpikir yang berbeda daripada yang sebenarnya ia pikirkan. ketika seseorang menganggap bahwa hanya ia saja yang berpikiran seperti itu, sedangkan orang lain tidak seperti itu, ia cenderung mengubahnya menjadi apa yang dipikirkan dan dilakukan orang banyak.

Jika kita simpulkan, kata kuncinya adalah : agar diterima, dipengaruhi lingkungan, bukan pikirannya yang sebenarnya. Pelajaran yang kita peroleh adalah bahwa seringkali tanpa sadar, kita mulai mengkompromikan nilai-nilai, pemikiran, ataupun perilaku kita sesuai dengan lingkungan di mana kita berada dengan maksud agar DITERIMA. 

Terkadang timbul pemikiran bahwa jika berbeda dari orang banyak, berarti ada yang salah, padahal tidak sepenuhnya demikian. Yang menjadi persoalan adalah ketika yang kita kompromikan adalah hal-hal yang sebenarnya sudah baik di dalam kita demi diterima di lingkungan pergaulan dan pekerjaan kita.

Perlu kita ingat teman-teman, tidak semua hal yang dilakukan dan dipercayai orang banyak itu baik dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran luhur agama dan keyakinan kita. Kamu tetap harus mengenali nilai-nilai hidup kamu yang sudah baik, jika di kemudian hari kamu menemukan hal-hal baru di lingkungan masyarakat dan pekerjaan; jangan serta merta menerima dan menelannya mentah-mentah. Pikirkan, renungkan dan cek terlebih dahulu fakta-faktanya; serta apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai baik yang kita percayai. Dengan demikian kamu dan saya terhindar dari perilaku KONFORMITAS yang bersifat merugikan.

Terkadang MENJADI berbeda itu baik dan PERLU. Istilah bekennya adalah : “BERANI MELAWAN ARUS”.

Semoga bermanfaat….

Saya doakan kamu semua sukses, sehat, dan bahagia selalu ya….

Ngopi dulu ahhhhh….

Salam sehat dan bahagia,
Bogor, 18 Juni 2021
Herry Santoso, S.Psi.
Content Writer dan Author
Insta & Fb : @herrymotivator , @psychologyinyourlife
Youtube Channel : Herry Santoso
085100465050

 
Sumber referensi:
Social Psychology (Myers, 2010)



CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment